Jumat, 17 Maret 2023

Teruslah Bertumbuh dan Berhenti Mengeluh

                                              slot gaccor hari ini



                                            slot gaccor hari ini

Teruslah Bertumbuh dan Berhenti Mengeluh


nagapoker tidak akan menulis balasan untuk surat-suratku. Dia bicara dengan bahasanya sendiri. Dia membaca, mengunyah kata-kataku, menelannya dengan lembut, dalam kesunyian yang seringkali sulit kupahami. Kalau saat ini dia sedang duduk di depanku dengan gayanya yang selalu chill itu mungkin akan dipegangnya tanganku sambil dia bilang, “Aya, teruslah bertumbuh dan berhenti mengeluh.”

Memang, selain pencemburu ulung, aku sepertinya berbakat jadi pengeluh ulung. Setiap hal, mulai dari yang kecil, bisa membuatku gila jika menurutku mereka tidak berada pada tempatnya. Sayangnya aku keseringan luput memahami bahwa dunia gak melulu berjalan seperti menurutku. Bisa juga menurut pacarku. Dan itu sah luar dalam.

Dua hari lalu aku memuji pacarku di twitter. Dia gak punya twitter, jadi kukategorikan itu caraku mencintai diam-diam. Aku bilang begini:

Kalau lagi iseng (dia selalu iseng), dia akan mengejekku karena terus-terusan membuka KBBI. “Masih mending, sih,” kataku. “Aku gak sampe nanya ke Ivan Lanin, yang betul itu keluar atau ke luar.

Pacarku bukan orang yang definitif. Kebutuhannya bukan mendefinisikan setiap istilah yang ia temukan. Dia lebih senang punya pengalaman dan belajar dari sana. Bukan pakai KBBI, melainkan intuisi. Aku sendiri sadar susah sekali menguraikan dia sebagai seorang manusia yang begitu — manusia yang gak berkutat di kamus, tapi bisa membawakan seisi dunia ketika berbicara denganku.

Kurasa pacarku ini jelmaan dari aku ingin mencintaimu dengan sederhana-nya Sapardi. Yang hujan biar jadi hujan, yang abu biar jadi abu. Dalam satu whatsapp-nya, dia bilang, “puisi boleh puitis, film boleh dramatis, tapi hidup jangan.” Aku langsung paham dan tersedak. Jujur saja, bukan dia yang pertama kali bilang ini, tapi ini pertama kalinya aku memercayai orang yang mengatakan ini.

Tiap kali aku mengeluh tidak punya ide untuk menulis puisi, dia cuma bilang, “jangan dipaksa.” Kalau keluhanku naik tensinya, dia tidak mendebatku. Dia akan diam dan membiarkanku paham sendiri (seringnya gak paham-paham).

Ketenangannya ini persis seorang nagapoker. Dia akan berusaha sesantai-santainya supaya pembawaan anxious attachment-ku tidak memengaruhi dirinya. Bukan berarti dia tidak bisa marah. Untuk setiap kesalahanku yang ditangkapnya, dia berpotensi meneriaku. Untuk sinisme yang seringkali kulontarkan, dia berpotensi kesal sekesal-kesalnya. Tapi dia tidak pernah meludahiku.

Aku pernah diludahi. Jadi, segala sikap baik pacarku — yang bertentangan dengan laki-laki di masa laluku, sungguh sebuah kemewahan buatku.

Gambaran pacarku yang lain ada pada puisi pendekku satu ini. Agak konyol mengingat-ingat terus puisi sendiri — apalagi yang sengaja kutulis buat makhluk Neptunusku itu — kesemsem sendiri, mengilhami lagi sendiri.

Sekali lagi kubayangkan dia bocah lelaki yang mengalungi banyak pertanyaan. Satu langkah dari rumahnya, satu pertanyaan. Dia suka berjalan jauh — jauh sekali, sampai di tempat yang dia pikir dia sudah temukan bintang. Mungkin sebuah bukit.

Aku bayangkan sesosok Nuh tampil di dadanya ketika ia sampai di puncak bukit itu. Bocah lelaki ini selalu sendirian, bahkan ketika ia sedang bersama teman-temannya. Kita tahu, sendirian melahirkan kesepian. Tapi dia tidak mau kalah sebelum waktunya. Ia pikir ia boleh saja sekarat, tapi tidak dengan yang lain. Ia pikir ia harus menyelamatkan sesuatu, meski tidak ada yang minta diselamatkan. Adakalanya sesuatu itu kurang, jadi ia tambah beberapa.

Untuk mereka yang kesusahan, dia ulurkan tangannya. Untuk mereka yang kelimpungan, dia tumpahkan nasihat-nasihatnya. Ia membangun sebuah kapal sebagai tempat penampungan.

People pleaser.

Jelas, puisi itu sindiran untuknya. Setidaknya, sindiran yang romantis.

Beberapa kali, kesenangannya menolong orang lain yang cenderung serampangan ini mampu kupreteli dengan jeli. Aku bilang, itu tidak boleh. Dia bilang, apa salahnya berbagi? “Hidup ini bukan charity,” tegasku. Dan dia terus saja berbagi.

Menurutnya aku hanya cemburu karena dia berbagi lebih banyak dengan yang lain ketimbang denganku. Aku pasti ngambek kalau dituduh begitu. Tapi sekarang, ketika aku menulis ini, aku ketawa sendiri.

Setajam-tajamnya pengamatanku, pengamatannya jauh lebih tajam. Ia memakai perspective taking dengan caranya sendiri. Ia tidak pernah bilang “aku ini pakai perspective taking loh!”. Dia gak tahu istilah itu. Aku yang tahu. Dan dia memang tidak memerlukan suatu istilah apa pun untuk mendefinisikan perilakunya.

Pacarku memang sederhana, tapi tidak sepele. Hidupnya mengamini kunfayakun yang difirmankan nagapoker .

“Teruslah bertumbuh dan berhenti mengeluh, Aya. Kamu selalu sanggup.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

                                                                                                    BO GACOR 2023