Kamis, 16 Maret 2023

Perkelahian Dosa dan Cinta

                                              slot gaccor hari ini



                                            slot gaccor hari ini

Perkelahian Dosa dan Cinta

 nagapoker mengetahui bahwa segala bentuk dosa dan kemaksiatan itu berbahaya dan merugikan, tidak diragukan lagi bahaya dosa dan maksiat bagi hati sama halnya dengan bahaya racun bagi tubuh menurut kadar bahaya yang dikandungnya. Adakah kejahatan dan penyakit di dunia yang tidak dikarenakan tumpukan dosa dan kemaksiatan? Itulah pelajaran yang kita dapatkan dari kisah terusirnya Adam dan Hawa dari syurga, dikeluarkanya iblis dari kerajaan langit, dihancurkannya kaum tsamud, Ad kaum nabi luth, binasanya Fir’aun dan Qarun, mereka semua dihancurkan karena dosa, maksiat dan kedurhakaan mereka pada Allah SWT. Umat Islam sebagai umat akhir zaman perlu mencerna ibrah dari berbagai peristiwa musnahnya kaum-kaum terdahulu, agar tidak kemudian melakukan kesalahan yang serupa. Ali bin Ja’adz meriwayatkan dari Syu’bah, dari Amr bin Murrah, dari AL Bukhturiy, dari orang yang mendengar dari Nabi SAW bersabda, “Manusia tidak akan pernah hancur kecuali mereka telah berbuat salah/dosa.”. Dalam Musnad Imam Ahmad, dari Ummu Salamah berkata,”Aku mendengar Nabi SAW bersabda, jika kemaksiatan umatku telah merajalela, Allah SWT pasti akan menimpakan atas mereka siksa dari sisi-Nya secara merat,lalu akau bertanya, wahai Rasulullah tidakkah diantara mereka ada orang-orang yang shalih? Beliau menjawab, Ya, dan akupun bertanya lagi,”Apa yang diperbuat Allah SWT kepada mereka (yang shalih)?, mereka juga terkena bencana sebagaimana yang menimpa semua orang, namun mereka (yang shalih) mendapat ampunan dan keridhaan Allah SWT.”

Dalam Riwayat lain juga diceritakan, Abu Umar bin Abd Al Barr menuturkan dari Abu Imran bahwa “Allah SWT mengutus dua malaikat ke suatu daerah untuk menghancurkannya dan juga penduduknya, kedua malaikat itu melihat orang yang sedang mendirikan shalat di masjid maka keduanya melapor pada Allah SWT, Wahai Tuhanku, sesungguhnya didaerah itu ada hamba-Mu yang sedang shalat, Allah lalu menjawab, Hancurkan daerah itu dan binasakanlah orang yang sedang shalat itu bersama mereka semua! Sesungguhnya ia (yang sedang shalat) tidak pernah menampakkan kemarahan wajahnya di jalan-Ku”. Dari dua kisah diatas kita dapat melihat bahwa posisi sebagai seorang muslim tetaplah memiliki kewajiban untuk amar ma’ruf nahi munkar, jika tidak, maka tidak akan bisa menyelamatkannya dari kemurkaan Allah SWT.

Ikhwah fillah, dalam memahami kondisi kekinian perlu juga kita tengok riwayat dalam sunan ibnu majah berikut, dari Abdullah bin Umar bin Khattab Ra. Berkata, “Aku adalah yang kesepuluh dari sepuluh kelompok orang-orang yang berhijrah pada masa Rasulullah SAW. Beliau mendatangi kami seraya bersabda, “Wahai para muhajirin! Ada lima perkara, dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mendapatinya: 1) Tidaklah kekejian itu merajalela hingga dilakukan secara terang-terangan oleh suatu kaum kecuali mereka akan tertimpa wabah dan penyakit yang belum pernah ada sebelumnya. 2)Tidaklah suatu kaum itu mengurangi takaran dan timbangan kecuali diturunkan kepada mereka krisis, kesulitan nafkah hidup dan penguasa yang lalim. 3) Tidaklah suatu kaum itu enggan mengeluarkan zakat dari hartanya kecuali hujan tak akan tertahan dilangit, dan andai saja bukan karena binatang, tentu hujan tidak akan diturunkan. 4). Tidaklah suatu kaum melanggar janji mereka, kecuali Allah mengutuskan musuh bagi mereka dari golongan lain yang mengambil sebagian kekayaan mereka. 5) Tidaklah para imam mereka melanggar apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya kecuali Allah menjadikan penderitaan di antara mereka.”

Jika kita melihat kondisi umat nagapoker secara global, masihkah kita menemukan keadaan yang demikian ? Semoga ini menjadi muhasabah dan renungan bagi kita semua sebagai generasi terkini dari umat islam, jikalaupun banyak musibah, bencana yang melanda maka sejatinya kita perlu melihat kembali pada kondisi amal kita masing-masing, masih adakah dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan secara bertumpuk-tumpuk? Kisah dari zaman Umar bin Khattab Ra ini semoga menjadi pelajaran buat kita, ketika itu terjadi gempa bumi di masa khalifah Umar bin Khatab Ra, maka Ia berucap, “Wahai manusia! Gempa ini tidak akan terjadi, kecuali sebab sesuatu yang telah kalian perbuat. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika gempa ini terjadi lagi, aku pasti enggan tinggal disini bersama kalian selamanya.”

Lantas bagaimanakah yang dimaksud perkelahian nagapoker dan cinta? Ini bukan hanya sekedar lawan atau hubungan negasi satu sama lain, namun ini adalah sebuah hikmah yang mesti kita pahami terlebih dahulu, apa hakekat sebenarnya ? Seorang hamba pada dasarnya tidak akan meninggalkan apa yang ia cintai dan ia sukai, akan tetapi ia akan meninggalkan apa yang kurang ia cintai demi sesuatu yang lebih ia cintai sebagaimana ia rela melakukan sesuatu yang ia benci demi mendapatkan sesuatu yang lebih ia cintai, terbebas dari apa yang lebih ia benci itu lebih utama daripada melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Karakter dasar akal adalah memilih yang disukai daripada yang kurang disukai dan memilih yang kurang dibenci daripada yang lebih dibenci, ini adalah kesempurnaan kekuatan cinta dan benci. Kecenderungan seperti ini tak akan terwujud kecuali dengan dua perkara:pemahaman yang mendalam dan keberanian hati. Cinta memiliki sejumlah kesan tersendiri, konsekuensi dan hukum-hukumnya. Tentunya orang yang berakal tidak akan memilih untuk mencintai sesuatu yang hanya mendatangkan bahaya bagi dirinya. Andai saja terjadi, pastilah karena kebodohan dan kedzalimannya, nafsu terkadang menyukai apa-apa yang membahayakan dan tidak bermanfaat. Itulah kedzaliman manusia terhadap diri sendiri. Begitu juga dalam bingkai mencintai Allah dan dicintai Allah SWT, kita sebagai hamba yang taat pastinya akan menjalankan dengan suka cita,semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan segenap rasa benci utnuk melakukannya.

Disinilah yang perlu diingat, dosa dan kemaksiatan itu akan terjadi jika kita melakukan segala larangan-Nya, sesuatu hal yang harusnya kita jauhi dan kita benci, namun ternyata kita sebagai manusia terkadang masih senang “menyelingkuhi” rasa cinta kita pada Allah dengan melanggar larangan-Nya, maka terjadilah tindakan dosa itu, betapa seringnya kita menduakan cinta pada Allah, karena memperturutkan hawa nafsu kita, yang sejatinya itu adalah pemicu terjadinya segala tindakan dosa dan kemaksiatan, hal demikian terus menerus terjadi dalam aktivitas kehidupan kita. Kembali pada penjelasan di awal bahwa segala petaka dan bencana itu menimpa, karena dosa-dosa yang kita lakukan sendiri, dosa yang sejatinya adalah bentuk kedustaan ketika kita mengatakan mencintai Allah dengan sebenar-benar cinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

                                                                                                    BO GACOR 2023