Black Panther: Drama Keluarga Revolusioner ala Marvel
Black Panther?
Apaan sih?
Sebagai penggemar semua superhero nagapoker yang hanya level nonton film bukan pembaca komik, nama Black Panther terasa sangat-sangat nggak familiar di telinga gue. Yah kalian tahu lah. Paling yang orang macam gue tau ya seputar yang udah nongol filmnya aja (you name it..The Avengers, Iron Man, Thor, Doctor Strange, The Guardian of The Galaxy, The Ant Man dan pokoknya banyak banget dah).
Pertemuan dengan Black Panther itu pertama kali malah bukan dari trailer di YouTube tapi pas nonton Star Wars: The Last Jedi di IMAX Gandaria City beberapa waktu silam. Tau nggak pertama kali jatuh cintanya sama apa? Sama musiknya yang terakhir nongol pas ada closing “Black Panther” (masih penasaran itu tuh “Pray For Me”-nya Kendrick Lamar atau bukan).
Udah sampe situ aja terus tiap nonton film di bioskop itu trailer ya nongol aja terus. Makin dilihat makin seneng sama scene T’Challa tos sama adiknya, Shuri (itu loh yang pake silangin tangan di depan dada) kayaknya pas gitu beat musiknya sama pas mereka tos. Asli kagak penting banget kan. Terus aksennya pas mereka ngomong itu kaya medok-medok Wakanda gitu (apa sehhhhh….). Belum penasaran juga sih sebetulnya pas hanya lihat-lihat trailer.
And then di Twitter mulai ramai ngomongin tapi ya bukan orang Indonesia. Casey Neistat misalnya ampe mohon-mohon dapat tiket ke premiere, terus kalian tau nggak tweet yang ada video anak-anak sekolahan pada dance seneng pas tau mereka bakal nonton Black Panther. Dihajar lagi sama video-video promo di YouTube dan pada bilang karakter-karakter cewek Wakanda tuh kuat banget.
Sebetulnya masih belum penasaran kaya gue penasaran nonton Dilan 1990 (hahaha yakali jangan disamain lahhh dull…). Kebetulan ada waktu, terus film Marvel juga jadi yah nonton deh. Itu juga nontonnya pakai drama karena salah prediksi waktu di jalan. Jadwal nonton yang harusnya pukul 16.00 harus pindah ke 18.30 karena jalan macet. Yah udahlah ga penting juga ini diceritain.
Nah, udah kan tuh. Mulai deh filmnya, gue duduk di satu-satunya kursi yang tersisa, belinya kurang lebih 1 jam sebelum show dimulai. Untung aja kagak amsyong, masih dapat kursi di D1, posisi yang lumayan lah ya (tuh kan untung emang kalau nonton sendiri daripada berdua atau ramai-ramai, selalu bisa dapat kursi walaupun menit-menit terakhir).
Sudah nih mulai. Jadi kurang lebih ceritanya Black Panther tuh ya sebuah negara atau kerajaan di Benua Afrika namanya Wakanda. Kalo lo masuk ke Wakanda ini kelihatannya seperti padang rumput aja, biasa aja. Nggak taunya di dalamnya mereka tuh punya harta berharga yang namanya vibranium, ya sejenis logam gitu tapi kaya komoditas utama kerajaan ini (negara apa kerjaan sih?). Teknologi di Wakanda ini juga nggak main-main. Seakan-akan ingin menunjukkan bahwa di balik anggapan orang tentang Afrika yang selalu penuh derita, kering, tandus, ada loh sebuah kerajaan yang nggak bisa dilihat dengan mata telanjang yang istilahnya nih dari satu kerajaan ini aja bisa ngasih makan satu dunia ampe entah berapa turunan.
Ceritanya ya sebenarnya perebutan takhta kerajaan sih tapi dikemas dengan apik banget sama sang sutradara, Ryan Coogler. Di bawah ini ada beberapa hal yang menarik perhatian gue dan bikin gue selama nonton nggak berhenti bilang “DAMN…KEREN AMAT SIH BOK!”
Who run the world? GIRLS!

Semua yang udah nonton nagapoker pasti setuju kalau para perempuan Wakanda itu nggak ketulungan kerennya. Mulai dari Okoye si Wakanda Warrior paling kece; Shuri, adik dari T’Challa yang sumpah demi apapun gue ngefans parah dengan ke-geeky-an dia bikin semua peralatan dengan teknologi tingkat tinggi di Wakanda; Nakia, ini mantannya T’Challa yang masih nggak bisa move on tipe-tipe cinta ditaro di peringkat nomor 2 yang penting membela negara dan membela hak orang yang tertindas; dan pastinya Ramonda, sang ibu dari T’Challa dan Shuri. Semua perempuan di Wakanda punya kekuatannya masing-masing. Scene yang paling awesome banget tuh pas akhirnya W’Kabi tunduk sama Okoye. Okoye semacam cuma bilang gini “Gue sih cinta ama lo beb, tapi gue lebih cinta ama Wakanda, gue rela mati buat kerajaan ini, nyerah deh lo” trus udah deh W’Kabi bertekuk lutut nggak berdaya. SADIS NGGAK SIH, SIS!
Superhero and diversity

Nggak bisa dipungkiri kalau film Black Panther dibilang radikal karena ada beberapa unsur rasial yang menjadi inspirasi film ini. Bisa dibilang 95% para cast di film ini adalah orang kulit hitam. Dari semua film Marvel, sepertinya hampir nggak pernah diangkat yang se-spesifik ini (mungkin mengikuti arahan Disney yang makin ke sini juga makin ngangkat diversity, lihat aja ada Moana dan Coco kalau mau tahu contohnya). Tapi hal ini justru menarik. Kalau nggak salah ya kemarin ini di Twitter ada yang nge-post juga bahwa selama ini aktor/aktris kulit hitam kurang mendapat tempat dalam scene-scene film Hollywood. Black Panther memberikan angin segar di dunia film superhero Hollywood. Yang ditonjolkan tuh banyak banget. Misalnya bagaimana orang tuh selama ini melihat Benua Afrika sebagai yang terbelakang, perjuangan orang-orang kulit hitam dalam mengangkat hak yang pantas mereka dapatkan, adanya keinginan dan obsesi untuk membalas dendam karena mungkin masa lalu yang kelam. Kalau dipikir-pikir ini berat sih filmnya, biasanya kan nonton film Marvel tuh pengennya duduk tenang aja dihibur. Yang satu ini beda, nggak disuruh mikir berat-berat kok, mungkin cuma otak gue aja yang sibuk menjahit satu aspek ke aspek lain.
Wakanda and its culture

Lelah dengan sesuatu yang Amerika banget setiap ada film superhero, Black Panther menyajikan banyak kearifan lokal yang pastinya awesome banget. Coba lihat deh ritual-ritual mereka saat akan mengangkat raja baru, lalu ada semacam golongan suku misalnya ada yang dari sungai, gunung dan lainnya. Paling gokil sih kostumnya yang benar-benar menggambarkan bahwa di dalam Wakanda tuh beragamnya banget-banget. Diperlihatkan juga bagaimana keputusan-keputusan kerajaan tetap memerlukan para tetua sebagai pemantau. Semua dibalut dengan cantik tapi tetap modern.
Awesome tech built by a woman

Mulai dari bikin kostum yang bisa menyerap kekuatan, teknologi semacam simulator, teknologi untuk bisa menyembuhkan orang, persenjataan yang hi-tech banget, semuanya itu dibuat dari satu otak jenius yang namanya Shuri. Cewek kecil mungil ini karakternya loveable banget. Gayanya tuh anak kekinian banget yang geeky parah dan rasa penasarannya tinggi untuk menciptakan sesuatu. Tipe-tipe yang ceplos dan mengatakan apa yang ingin dia katakan. Shuri bisa dibilang juga sebagai kepala technology lab di Wakanda. Tempat kerjanya tuh jauh masuk ke dalam gunung dan di situ semua teknologi dikembangkan.
A meaningful villain

Satu hal yang nggak kalah hebat adalah bagaimana villain dalam nagapoker ini dibentuk benar-benar manusia yang jelas alasannya kenapa dia jadi jahat. Ya intinya bukan sekadar “Hahahaha…gue monster dari luar angkasa yang ingin datang menguasai bumi ya karena gue pengen aja. Nih gue tembak-tembakin kota elu terus gue nantinya akan berkuasa”
Black Panther punya pemahaman yang lebih manusiawi kenapa orang bisa dengan mudahnya membunuh sesamanya, menjadi egois dan ingin membalaskan dendam. Segala sesuatu pasti ada penyebabnya dan yang diambil adalah sisi manusianya. Di akhir cerita pun sang villain, Killmonger menutup kisahnya dengan indah, dia membuktikan bahwa yang dikatakan ayahnya (N’Jobu) adalah benar adanya. Bahkan ada moment-moment di mana sang Ayah tuh sebetulnya menyesal kenapa tidak segera saja membawa pulang anaknya kembali ke Wakanda, mungkin masa depannya akan lebih cerah.
Kesimpulan:
Black Panther adalah film Marvel tapi nggak ada rasa Marvel-nya. Eh gimana? Iya, ini tuh lebih ke perpaduan film kolosal dengan sedikit ala-ala science fiction dipadu dengan drama keluarga. Setelah baca review ini, nggak perlu dibawa berat nontonnya. Di beberapa scene masih ada ketawanya dikit kok, nikmatin aja jokes recehnya. Dan perhatikan benar-benar scene di South Korea…..itu gokils!!
Selamat menonton. Mau di IMAX atau layar biasa juga tak apa, yang pasti jangan nonton bajakan, seriusan sayang banget, jelek pula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar