tertinggal teman lulus
Namun, dengki yang sebagai awalan itu bukan berasal dari niat jahat sepertinya, tetapi reflek.
Photo by nagapoker
Dunia perkuliahan tak sama dengan sekolah, lulusnya tidak bareng. Lama sebentarnya tergantung bagaimana upaya yang dikerahkan masing-masing.
Satu per satu temanku lulus. Melihat hal itu tentu ada reflek perasaan dengki, mengapa ia bisa lulus lebih cepat, mendahuluiku. Namun setelah melihat usahaku selama ini, memang usahaku tak lebih besar dari yang mereka upayakan.
Setelah dengki, perasaan rendah diriku tak dapat dielakkan. Terlebih yang dulu merupakan adik kelas, satu per satu juga sudah lulus. Namun rasanya wajar saja, sebab aku pernah pindah jurusan — salah satu hal yang sampai saat ini aku masih bingung mengapa dulu melakukan itu.
Tak henti-hentinya aku menengok masa lalu, kenapa aku se-impulsif itu. Menentukan pilihan tanpa berpikir panjang yang saat ini begitu banyak membawa penyesalan. Ah sudahlah…, aku menghibur diri dengan narasi semua orang memiliki waktunya masing-masing, tidak bisa dibanding-bandingkan.
Di usia yang hampir seperembat abad, aku merasa masih kekanak-kanakan. Sering mempersoalkan hal tidak penting. Dengki dengan pencapaian orang lain misalnya.
Rasanya selama ini aku sering bertindak berdasarkan nagapoker semata. Jika ada hal seperti ini maka responnya itu, jika ada hal seperti itu maka responnya begini dan seterusnya, dan seterusnya. Jika yang reflek itu merupakan hal baik, maka tentu tidak menjadi masalah. Namun bagaimana jika yang reflek itu hal yang buruk, tentu jadi masalah.
Dengki merupakan salah satu reflek yang buruk lagi berbahaya. Ia mendatangkan berbagai macam pengaruh buruk dalam diri. Aku tidak bisa menjelaskan banyak, namun aku merasakannya betul-betul. Dan bukankah pembunuhan pertama kali yang dilakukan oleh manusia berawal dari rasa dengki? Setan menjerumuskan hawa untuk memakan buah khuldi, bukankah itu juga karena dengki?
Reflek yang buruk mendatangkan banyak korban. Namun reflek itu layaknya tumbuhan, ia bisa berkembang dan bisa juga mati. Tergantung apakah kita merawat atau membiarkannya.
Reflek yang selalu mendapat penguatan akan tumbuh subur. Seperti seekor anjing yang selalu mengeluarkan air liur setiap kali dibunyikan lonceng (eksperimen pavlov). Reflek yang terus menerus dikondisikan rutin saban hari akan begitu demikian kuatnya, tumbuh subur.
Begitupun rasa dengki, menurut hematku merupakan perasaan yang muncul pertama ketika melihat kabar keberhasilan orang lain. Namun, dengki yang sebagai awalan itu bukan berasal dari niat jahat sepertinya, tetapi reflek. Dan itu artinya kita bisa memilih untuk merawat atau mematikannya.
Ada kutipan menarik dari Mas Prie GS untuk membasmi dengki itu, membiarkannya mati dengan membentuk reflek tandingan. Dalam nagapoker memang ada penjelasan yang lebih ilmiah, biasa dikenal dengan modifikasi perilaku. Namun saya rasa penjelasan Mas Prie berikut ini lebih mudah untuk dipahami, lagi pula kurang lebih konsepnya juga sama.
Jika dengki ternyata bukan berasal dari niat jahat, tetapi sekadar hasil dari refleks, berarti seseorang bisa menyiapkan refleks tandingan. Dan semua juga bisa dibangun lewat kebiasaan. Caranya mudah: lakukan saja kebiasaan pembalikan.
Gembiralah saat melihat orang bergembira. Sulit itu pasti. Tapi cobalah. Memaksa diri pada awalnya. Paksa agar kegembiraan itu muncul kalau perlu dengan segala cara. Kalau perlu sambil menari, menyanyi-nyanyi, menghibur diri atau malah berteriak-teriak, sampai kegembiraan itu benar-benar muncul. Percayalah, jika latihan ini terus-menerus diusahakan, kegemibaran itu akan benar-benar muncul. Gembira melihat orang lain bergembira, benar-benar akan menjadi kebiasaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar