hukuman mati yang menimpa ku dan keluarga besar ku
Di rumah kami hanya satu kekayaan yang tersisa yakni hidup nagapoker, kekayaan itulah yang membuat kami hidup hingga saaat ini, dari puting ibu kami anak-anaknya belajar bahwa hujan punya banyak rasa, sesekali rasanya teduh seperti langit, kekadang ia berubah menjadi kehilangan yang lebih dalam sejak ayah di makamkan, pernah sekali hujan dari puting ibu itu menjadi gelombang maha dahsyat hingga menakut-nakuti kami.
Ibu kami sama seperti ibu-ibu lainnya, seorang ibu yang begitu mencintai anaknya, saat nagapoker bungsuku lahir dan suaranya pecah di dalam kamar, ibu begitu bahagia mendengarnya, dipeluknya pelan-pelan adik bungsuku seraya memeriksa anggota tubuhnya satu persatu, jari-jari kakinya yang sepuluh itu di hitung satu persatu, lalu berpindah ke jari-jari tangannya, dua daun telinganya, dua bohlam matanya, hidungnya, kepalanya, kemaluannya, setelah semua selesai diperiksa ibu memeluk adikku lebih dalam dan menangis terisak sebab anak yang 9 bulan di kandungnya lahir ke dunia dengan sempurna.
Setelah ayah wafat kami begitu akrab dengan kemiskinan, di kamar kami kemiskinan tidur berdesak-desakan, sesekali aku harus keluar tidur di ruang tamu sebab tak kebagian tempat, saat memasuki waktu makan ibu menjejerkan kemiskinan bersama nasi dari beras raskin yang dibeli dari negara, ibu menatap mata kami lebih dalam lalu aku melihat kepingan-kepingan kaca di wajah ibu pecah menjadi sungai berwarna bening saat mengatakan “ maaf tak ada ikan hari ini, seraya membagikan garam di piring kami masing-masing”
Aku dan adik-adikku segera paham bahwa tak ada yang perlu dikeluhkan, maka dengan cepat kami memasang senyum terbaik menerima pemberian ibu, melahap habis kemiskinan di piring kami yang rasanya hambar, kami meminta lagi jatah kemiskinan ibu untuk di lahap sekalian, ibu berkata “Sabar anakku, kemiskinan harus dihabiskan perlahan, harus dinikmati satu per satu sebab hanya ini warisan ayah yang tersisa”.
Kekadang aku berpikir bahwa di negara yang serba kaya ini menjadi miskin adalah lelucon terindah, pagi ini aku membaca koran bekas seminggu yang lalu ada satu berita yang membuat jantungku berdetak lebih hebat “ Negara memutuskan untuk menaikkan harga beras raskin minggu depan” itu artinya tepat saat aku membaca berita ini harga beras raskin telah dinaikkan.
Hukuman mati telah di jatuhkan perlahan bagi nagapoker semacam kami, aku kembali ke rumah dan melihat ibu serta adik-adikku duduk memeluk lutut sendiri seraya menatap kosong kedepan, tak ada lagi beras di dapur hanya tersisa garam kasar yang tak mengandung yodium, itu pertanda waktu eksekusi tak lama lagi, ibu memeluk kami bertiga seraya berbisik “Maafkan ibu atas dosa kemiskinan ini.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar