Menjadi Baik dan Berani
Sebagai orang yang sangat takut menyakiti hati nagapoker, saya tumbuh dalam kehati-hatian. Hati-hati dalam menjaga sikap dan perkataan agar diterima oleh orang lain dan agar hati orang lain tidak terluka. Hal tersebut membuat saya selalu berusaha untuk mengubah diri saya untuk menjadi apa yang orang lain inginkan dan berusaha keras untuk menyenangkan hati mereka.
Sayangnya, tidak pernah berhasil. Sekeras apapun saya berusaha untuk melakukan itu semua, nampaknya orang lain selalu menganggap saya menyebalkan dan pantas untuk dirundung bersama-sama atau dijauhi dalam lingkaran pertemanan, lalu ketika mereka membutuhkan nagapoker, mereka akan kembali, dan saya akan selalu menerima. Saya akan membiarkan semua yang mereka lakukan dan ‘menyembah’ mereka dengan melakukan yang mereka inginkan, tanpa pernah berkata ‘tidak’ atas apa yang mereka minta. Padahal, menyenangkan hati semua orang itu mustahil. Tangan kita hanya dua, kita tidak diciptakan untuk merangkul semua keinginan di dunia. Sekaliber Nabi sekalipun, banyak yang membenci, bahkan ingin membunuh. Sekaliber pahlawan sekalipun, banyak yang tidak suka dan dilabeli teroris. Lah, Saya siapa?
Lantas, hasil dari kelakuan saya itu apa? hasilnya adalah hati saya terlalu banyak luka, saya kelelahan sendiri, saya tetap tidak bisa menyenangkan semua orang, dan saya memberikan izin untuk orang-orang berbuat hal buruk pada saya secara sukarela tanpa ada konsekuensi apapun. Dan bukankah keinginan untuk meraih restu semua orang dan mewujudkan keinginan semua orang adalah bukti keserakahan? Sudah serakah, sakit hati pula. Habislah saya.
Butuh waktu lama dan perbincangan dengan diri sendiri untuk memahami hal ini dan menemukan kesimpulan bahwa kita bisa tetap menjadi baik, sabar, dan pemaaf tanpa melukai diri kita sendiri dan tanpa perlu membiarkan orang lain berbuat semena-mena pada kita karena mereka tahu bahwa kita akan selalu sabar. Jangan sampai sibuk menyenangkan orang lain membuat daya juang kita menurun untuk melawan apa-apa yang memang tidak benar dan tidak baik. Ingat, bukan hanya hati orang lain yang perlu kita jaga, tapi hati kita juga. Ketika semua orang pergi dan sibuk dengan dirinya sendiri, tersisa kita dan pikiran-pikiran kita sendiri. Akan jadi apa kalau diri kita sendiri tidak memihak pada diri kita? Kalau kata Teh
: mengapa kau menyediakan jantung untuk sengaja dicabik-cabik oleh orang lain?
Maka sebenarnya, tindakan asertif itu diperlukan. Asertif berarti tegas, bukan jahat. Kita harus berani menolak berbagai hal jika memang kita tidak bisa atau tidak mau, kita harus berani melawan kesemena-menaan, kita harus berani mengutarakan pendapat yang mungkin berbeda dengan orang lain, dan kita juga harus berani berjuang untuk memperjuangkan apa-apa yang patut kita perjuangkan.
Dalih setia kawan atau “Nggak enakan” untuk mengiyakan segala ajakan tidak patut untuk selalu dijadikan alasan melukai diri sendiri. Kita memang harus berani mengutarakan, mana yang tidak baik, mana yang tidak kita suka, mana yang tidak kita mampu. Ingat ya: Berani mengutarakan. Tentu diutarakan dengan cara yang baik, bukan dengan marah-marah. Dan jangan hanya memberi kode atau menghilang tiba-tiba. Selain bentuk ketidakberanian, orang lain tidak akan belajar memahami dan kita sakit sendiri. Inilah PR berproses terbesar saya.
Saya juga berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa jika setelah disampaikan baik-baik, teman-teman nagapoker menjauhi kita karena kita tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Biarkan saja. Biarkan mereka menjauh dan tanggal, biarkan yang benar-benar paham dan menyayangi kita lah yang akan tinggal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar