Mengapa Cara Bahagiamu Sangat Rumit?
Hanya ingin memaksimalkan Sabtu Ku. Silahkan membaca jika tertarik, tidak ada paksaan. Sedang berada di kedai kopi, di pojok Bangka, Mampang. Namanya nagapoker. Harga kopinya sangat bersahabat (18k–25k), WiFi kencang, rindang, dan meja yang sejajar dengan dada. Ditemani Jimmy, dan tentunya Sampoerna Mild. Mari menulis…
Saat SMP mungkin kita telah diajari, tepatnya di mata pelajaran biologi bahwa kebutuhan primer manusia terklasifikasi menjadi tiga hal; sandang, pangan, dan papan. Memang benar jika kita telaah melalui akal sehat, manusia tidak bisa hidup tanpa makanan, baik sejak masa purba maupun era digital. Namun, jika kita telisik lebih dalam, tampaknya manusia purba mampu bertahan tanpa adanya pakaian dan rumah. Dengan demikian, bukankah pemahaman akan kebutuhan primer manusia nampaknya berbeda setiap zamannya? Bagaimana dengan saat ini? Apakah kebutuhan primer nagapoker masih sebatas sandang, pangan, dan papan? Aku rasa tidak.
Sepotong roti mungkin sangat bernilai pada masa Perang Dunia II ketimbang saat ini. Coba saja dengan cara berkesperimen langsung ke jalan. Bawa sepotong roti dan Iphone keluaran terbaru, tawarkan pada ojol (karena mudah ditemui). Aku bertaruh ia akan mengambil Iphone ketimbang roti. Ojol itu akan merasakan dopamin sesaat dan bahagia setengah mati. Namun, jika eksperimen serupa Kamu adakan pada masa Perang Dunia II di Eropa, Aku bertaruh objek penelitian Kamu akan memilih sepotong roti ketimbang teknologi komunikasi. Ia juga akan merasakan dopamin yang sama yang dirasakan oleh si ojol pada saat ini. Mengapa demikian? Sebab keadaan memengaruhi kebutuhan, dan kebutuhan memengaruhi tingkat kebahagiaan.
Saat ini, kebutuhan manusia tidak hanya sebatas sandang, pangan, dan papan belaka. Mereka tidak merasa bahagia kendati ketiga kebutuhan tersebut telah terpenuhi. Hal tersebut karena keadaan, keadaan yang memaksa kita untuk mendapatkan lebih. Aku rasa, potongan puzzle yang hilang pada klasifikasi kebutuhan primer saat ini adalah kebutuhan sosial. Kebutuhan akan afirmasi, pengakuan, sanjungan, pujian, likes, dan komentar positif di media sosial nampaknya lebih membahagiakan ketimbang sepotong roti. Jika Aku menteri pendidikan, maka akan lebih baik jika Aku modifikasi sedikit di buku pelajaran biologi itu, bahwa kebutuhan primer manusia terdiri menjadi empat hal, bukan tiga.
Mengapa kebutuhan sosial harus dimasukkan ke dalam kebutuhan primer? Aku rasa karena kehidupan yang paling layak adalah kehidupan yang bahagia. Ya, buat apa hidup jika tidak bahagia? Ucap si Gen-Z. Segala aktivitas kita sehari-hari adalah upaya pengejaran kebahagiaan tersebut, tidak perlu malu untuk mengakuinya. Dan kebetulan, Aku melihat bahwa instrumen terdepan untuk mengaktualisasikan hal tersebut adalah kebutuhan sosial yang mayoritas termanifestasikan dalam media sosial.
Algoritma media sosial sangatlah rumit, tidak heran jika cara bahagia Mu juga menjadi rumit.
Setiap pagi, nagapoker selalu mengawali hari dengan upacara. Bukan upacara bendera, melainkan upacara media sosial. Ada apa hari ini, apa yang teman-teman Ku lakukan. Semua informasi itu langsung masuk ke otak Mu tanpa mengucapkan assalamualaikum terlebih dahulu. Mungkin itu potongan kecil yang menjadi sebab cara bahagia Mu terlalu rumit sebab penetapan prioritas Mu menjadi abstrak dan membingungkan — lack of focus. Ah, enak sekali es americano ini…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar