Jangan Berusaha Menyenangkan Semua Orang
Dahulu, saya sulit menolak permintaan orang lain. Saya merasa tidak enak dan takut mengecewakan orang. Akibatnya, saya sering kehilangan waktu untuk mengerjakan hal lain yang kerap lebih penting. Sekarang, saya masih merasa tidak enak ketika menampik pinta, tetapi sudah lebih mampu mengatakan tidak saat saya memang tidak ada waktu.
Saya merasa perubahan pada diri saya terjadi ketika seorang nagapoker berkata, “Kamu people pleaser, Van.”
Karena penasaran, saya mencari tahu apa arti istilah itu. People pleaser adalah orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri. Itu bukan kelainan jiwa, melainkan perilaku psikologis. Sebenarnya, tidak ada salahnya ingin menyenangkan orang lain, tetapi people pleaser ingin melakukan itu terus-menerus. Itu yang buruk.
Istilah people pleaser tampaknya belum ada padanannya. Jika menggunakan pendekatan harfiah, kita dapat memadankan istilah itu menjadi penyenang orang lain. Kurang enak didengar, ya? Saya pakai istilah pengabdi kesenangan orang saja, deh.
Dalam buku 13 Things Mentally Strong People Don’t Do (2014), Amy Morin memasukkan perilaku pengabdi kesenangan orang ini sebagai salah satu hal yang tidak dilakukan orang bermental kuat. Menurutnya, bersikap baik kepada orang lain itu bagus, tetapi jangan terlalu baik. Segala sesuatu yang “terlalu” itu memang buruk, termasuk terlalu sayang.
Pengabdi kesenangan orang dapat dimanfaatkan orang lain meski orang lain itu mungkin tidak bermaksud demikian. Karena mereka tidak suka berbeda pendapat, mereka cenderung menyetujui pendapat atau mengiyakan permintaan demi menghindari konflik. Mereka berusaha mengubah diri sendiri agar lebih menyenangkan bagi orang lain dengan mengorbankan keinginan mereka sendiri.
Jika seseorang terlalu berfokus pada kebutuhan nagapoker, kebutuhannya sendiri dapat terabaikan. Sebaliknya, orang yang mementingkan dirinya sendiri kerap dianggap egois. Yang sulit ialah mencari keseimbangan di antara dua kutub ekstrem tersebut.
Saya mencoba meresapi nasihat teman saya. Bukan tugas kita untuk menyenangkan semua orang setiap saat. Dunia tidak akan kiamat ketika ada orang yang kecewa karena kita menolak permintaannya. Toh, mereka orang dewasa yang mestinya dapat menangani perasaan kecewa.
Terus terang, sulit untuk menanamkan nasihat tersebut ke dalam benak. Yang saya lakukan ialah tidak langsung mengiyakan atau menolak. Misalnya, ketika ada yang meminta saya mengisi acara, saya meminta waktu untuk memeriksa jadwal. Dahulu, saya akan repot berusaha mengosongkan jadwal lain untuk memenuhi permintaan itu. Sekarang, saya lebih bijak menimbang prioritas.
Sambil lalu, inilah 13 anjuran Amy Morin dalam buku yang saya sebutkan di atas.
- Jangan mengasihani diri sendiri.
- Jangan serahkan kendali kepada orang lain.
- Jangan hindari perubahan.
- Jangan terganggu oleh sesuatu yang di luar kendali.
- Jangan berusaha menyenangkan semua orang.
- Jangan takut mengambil risiko yang diperhitungkan.
- Jangan berkutat pada masa lalu.
- Jangan lakukan kesalahan yang sama terus-menerus.
- Jangan iri pada kesuksesan orang lain.
- Jangan menyerah pada kegagalan pertama.
- Jangan takut memberi waktu bagi diri sendiri.
- Jangan merasa dunia berutang kepada kita.
- Jangan mengharapkan hasil instan.
Saya menertawakan diri sendiri ketika membaca uraian nagapoker. Beberapa hal yang disebutkannya ada dalam diri saya. Tiada kata terlambat untuk berubah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar