Senin, 20 Februari 2023

Lelucon, Lawakan, Bapak Kau jadi Becandaan

                                            slot gaccor hari ini



                                          slot gaccor hari ini

Lelucon, Lawakan, Bapak Kau jadi Becandaan


Mungkin banyak dari kalian yang cukup familiar dengan cerita di atas. Pagliacci, seorang pelawak, merasa depresi dan ingin diobati. Beragam persepsi menyebabkan beragam interpretasi akan cerita di atas. Ada yang menyebut bahwa kebahagiaan sebenarnya berasal dari diri sendiri. Ada yang berkata bahwa orang yang terlihat bahagia biasanya justru adalah yang tidak berbahagia. Ada juga pandangan bahwa kisah di atas menyindir dokter yang dianggap sering mengambil kesimpulan tanpa begitu perduli dengan kondisi pasien yang sesungguhnya. Tapi secara umum bisa kita sepakati bahwa kisah singkat di atas adalah sebuah lawakan, lelucon, candaan.

Secara struktur, lelucon biasa dibagi jadi tiga bagian

  1. Setup untuk menghasilkan nagapoker
  2. Punchline untuk menampilkan kejutan

Tergambar bahwa lelucon itu merupakan suatu proses dimana kejutan atau hasil tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebuah kontradiksi. Tujuannya? Entah, ada yang bilang sebagai bentuk ekspresi diri. Ada yang berkata untuk membuat tertawa dan menyebar kebahagiaan. Ada juga yang berkata untuk menarik perhatian atau atensi. Entah. Yang pasti lelucon itu sebuah kontradiksi.

Hidup kau lelucon, ujar Ibu Ani kepada anaknya yang gagal jadi kepala daerah meski sudah disokong oleh ribuan juta shekel. Anaknya berkelit, Ibu lebih lelucon lagi karena Ibu sudah mati awokawokawok, sembari tertawa terbahak-bahak. Suster pun berkata kepada dokter “Dosis terapinya sepertinya harus ditingkatkan dok”


Contoh di atas adalah contoh sederhana di mana struktur lelucon terpampang dengan jelas. Kalimat pertama, ekspektasi umum adalah anaknya berhasil jadi kepala daerah namun ternyata gagal. Kalimat kedua, ekspektasinya adalah Ibu Ani masih hidup, namun ternyata dia sudah mati. Kalimat ketiga, menjadi punchline bahwa ternyata kalimat pertama dan kedua hanya merupakan setup untuk punchline bahwa sebenarnya si anak sudah gila, mungkin karena gagal jadi kepala daerah. Sederhana kan?

Tapi apa yang membuat lelucon itu sebuah lelucon? Mengapa sekarang banyak kita lihat bahwa suatu lelucon dianggap melanggar norma dan bahkan hukum? Mengapa juga ada pihak-pihak yang berusaha menjadi badan otoritas untuk mengatur apa lelucon yang baik, seharusnya seperti apa dan yang lucu itu seperti apa? Untuk itu kita perlu masuk ke bagian ke tiga dan yang terpenting dari struktur lelucon, yaitu

Reaksi


Sebuah nagapoker yang baik seharusnya memancing reaksi yang besar. Tentu reaksi yang diharapkan bergantung pada intensi dari si pembuat lelucon. Bagi para komikus, reaksi yang dicari adalah para penonton tergelak dan tertawa terbahak-bahak sampai terkencing di studio, hingga akhirnya pengikut akun media sosial mereka melonjak tajam, menjadi tuhan bagi para pengikunya. Ntahlah, tahu apa saya soal mereka. Bagi orang yang membuat “self depreciating jokes” reaksi yang mereka harapkan mungkin tidak lebih dari pembebasan emosional, sokongan dari pendengarnya dan mungkin perkontolmemekan yang terjadi sesudahnya disertai desahan “Uuh kamu smart banget aku sapioseksual”. Ntahlah, tahu apa saya soal mereka. Terkadang, suatu hal tidak direncanakan menjadi sebuah lelucon, namun karena memenuhi struktur di atas dan reaksi yang terjadi cukup luas, justru menjadi lelucon of the year. Kasus perundungan audrey contohnya, di mana warganet Indonesia menjadi bahan tertawaan warganet Indonesia lainnya karena ketololan mereka dibodoh-bodohi anak SMA lol anjir goblok banget sumpah awokawoakwok.

Intinya reaksi merupakan suatu bagian terpenting agar sebuah lelucon menjadi sebuah lelucon. Nah, di sini letak permasalahan (atau tantangan?) dari polemik lelucon. Lelucon sangat bergantung pada reaksi subjektif dari orang lain. Masalahnya, kita tidak bisa mengatur reaksi orang bakal seperti apa. Tentu kita bisa prediksi ya, makanya banyak akun-akun media sosial kelas tiga yang menggunakan lelucon kelas kambing dengan format generik sederhana yang mengundang puluhan ribu retweets, likes, apalah namanya. Sebenarnya mudah memahami kenapa lelucon kelas bawah tersebut, yang luar biasa sederhana, justru mengundang banyak gelak tawa dan reaksi yang positif dari pemirsa. Karena lelucon itu sederhana, mudah dimengerti. Banyak orang yang bisa memahami bahwa “itu” adalah lelucon, bisa dilihat strukturnya dengan jelas, dan mereka tergelitik dengan punchlinenya. Tapi ya itu, lelucon sederhana, slapstick, awam dan tidak mendidick. Tidak mendidick karena tidak mengajarkan sesuatu atau memancing otak untuk berpikir. Meski tentu ada yang beranggapan “Lah anjir mau ketawa aja kok harus mikir”. Wajar, bagi orang yang malas berpikir. Ada juga kaum elitis yang beranggapan bahwa lelucon itu harus berkualitas tinggi, ndakik-ndakik ruwet dan kaku secara struktur. Ya gapapa. Wajar juga kalau banyak yang mencibir dan sedikit yang mengerti. Karena leluconnya terkesan kaku, dingin, tidak jujur, kehilangan “nyawa” dari lelucon. Nah, baru kita masuk ke inti dari bacotan tidak jelas ini, yaitu

L’esprite de la blague


Alias jiwa dari lelucon. Hadeehh apaan pula ini jiwa dari lelucon. Untuk bisa memahami hal ini lebih jauh, kita bisa lihat permisalan ini. Rasa pedas, sebenarnya adalah reaksi ketika lapisan mukosa (kulit) dari lidah dan saluran cerna kita teriritasi. Ada orang yang sebegitu sukanya dengan rasa pedas hingga dia tidak bisa hidup tanpa rasa pedas, meskipun sehabis itu dia mencret-mencret. Rasa gatal merupakan rasa sakit yang minor, sehingga ketika diberikan rasa sakit yang lebih (dengan cara digaruk misalnya) rasa sakit minor itu terlupakan sejenak dan justru membuat rasa nikmat. Rasa geli, merupakan reaksi tubuh ketika dia merasa tidak berdaya, rentan, namun ketika diberikan dengan jumlah dan momen yang tepat, justru membuat orgasme, kenikmatan tiada tara (katanya ya, ansible sih masih perawan mana tahu soal beginian). 3 contoh ini merupakan gambaran tentang jiwa dari lelucon. Rasa gatal menggambarkan bahwa sebenarnya “ekspektasi tidak sesuai dengan hasil” merupakan sesuatu yang negatif. Tubuh kita menghindari hal tersebut karena sebenarnya tubuh kita dirancang untuk mengeluarkan hormon kebahagiaan ketika hasil sesuai dengan ekspektasi. Contohnya adalah musik. Kita berdendang sesuai dengan alunan musik, di kepala kita muncul ekspektasi, yaitu lirik yang sudah di hapal, nada yang sudah terpatri, ketika kita lantunkan dan sesuai dengan ekspektasi tersebut, terasa nikmat. Begitu juga perasaan ketika striker yang menendang bola dan nagapoker. Sungguh nikmat. Namun ada kalanya tubuh kita justru menginginkan rasa negatif tersebut segera hilang. Contohnya ya rasa gatal tadi ketika di garuk. Meski rasa gatal tersebut merupakan rasa sakit, toh kita memberi sakit yang lebih besar hanya supaya rasa sakit kecil tersebut hilang. Ini dikarenakan otak kita mempersepsi rasa sakit yang pertama sebagai fokus yang paling darurat. Pokoknya harus, ntah gimana. Sama juga dengan lelucon. Konflik antara ekspektasi dengan hasil tersebut ditamatkan dengan gelak tawa sebagai reaksi untuk menghindari rasa sakit. Rasa pedas menggambarkan bahwa justru kita menjadi ketagihan dengan proses tersebut, yaitu rasa nyeri -> menjadi tidak nyeri. Betapa nikmatnya minum air panas setelah makan pedas dan pedasnya menghilang. Sedangkan rasa geli tadi, menggambarkan momen di mana kepasrahan yang terjadi memberi rasa nikmat asalkan momennya tepat. Ketiganya menggambarkan betapa tubuh manusia ingin juga kadang-kadang untuk menjadi lepas kendali, pasrah dan lepas. Jiwa dari lelucon ya disini ini. Lepas kendali. Tertawa lepas dan terbahak-bahak sampai lemas karena lelucon yang tidak disengaja sungguh lebih nikmat dibandingkan dengan tertawa kecil karena lelucon yang sudah sering digunakan dan terlalu terprediksi. Tulus dan otentik. Mungkin ini yang kita cari. Maksudku, ketika kita mempasrahkan diri kita kepada lelucon sebagai bentuk pelepasan diri, cukup adil apabila kita mempersepsikan bahwa kita tidak sedang dimanipulasi. Komikus yang baik, bisa menyampaikan ketulusan hatinya melalui lelucon yang ia berikan. Para pendengar bisa mempersepsikannya lalu akhirnya secara bawah sadar merasa ini adalah sesuatu yang otentik dan kemudian tertawa tergelak. Lalu lanjut ke penutup dari tulisan ini yaitu

Insecurity


Nah, ini yang menjadi the finale dari tulisan ini. Insekuritas merupakan sesuatu yang tidak nyaman karena dipersepsikan mengancam. Sedangkan lelucon sendiri membutuhkan rasa “percaya dan pasrah” untuk membebaskan diri dan tertawa tanpa kendali. Konflik? Ya jelas. Kembali lagi ke struktur lelucon yang merupakan kontradiksi. Lelucon, pada dasarnya memang akan memancing reaksi, baik positif maupun negatif. Reaksi tersebut, sekali lagi, tergantung dari persepsi pendengar, pembaca atau penonton. Ketika lelucon dipersepsikan sebagai hal yang membahayakan, bisa jadi reaksi yang timbul adalah rasa marah sebagai bentuk perlindungan diri. Melawan, tidak terima. Ketika lelucon dipersepsikan sebagai hal yang tulus dan otentik, bisa jadi yang timbul adalah rasa bebas tadi, tertawa tergelak sampai air mata berlinang. Masalah menjadi timbul ketika orang berekspektasi bahwa lelucon itu harus diterima sebagai lelucon, atau lelucon itu bukanlah lelucon melainkan bentuk hinaan. Ketika realita yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi? Hhe hhee hheee

Lucunya? Karena ini sudah sesuai dengan struktur dari lelucon. Hasil yang tidak sesuai ekspektasi. He he he. Tinggal reaksi para pembaca saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

                                                                                                    BO GACOR 2023